Mengi saat usia pra sekolah

Sedang mempelajari tentang preschool wheezing nih ceritanya buat maju presentasi jurnal di stase pediatri.

Judul jurnalnya : Preschool wheeze-impact of early fish introduction and neonatal antibiotics (Acta Pædiatrica, 2011)

Hmm.. jadi apa sih sebenarnya Preschool wheeze ini? Definisi dari preschool wheeze ini adalah wheezing (mengi) yang terjadi saat usia pra sekolah.

Wheezing atau mengi sendiri di definisikan dengan suara napas tambahan musikal, continous (durasi mengi lebih lama dari 250 ms) dan bernada tinggi dengan frekuensi dominan 400 hz atau lebih. Adanya mengi ini disebabkan oleh aliran udara dengan kecepatan tinggi melalui saluran napas yang menyempit.

Mengi yang terdengar saat inspirasi bisa dikarenakan adanya penyempitan saluran napas besar. Penyempitan ini bisa dikarenakan adanya obstruksi oleh benda asing, tumor,  sekret, atau paralisis pita suara. Mengi saat ekspirasi bisa dikarenakan adanya penyempitan saluran napas kecil. Penyempitan ini dikarenakan bronkospasme, penebalan/edema mukosa, obstruksi saluran napas parsial oleh tumor atau sekret.

mengi pra sekolah dibedakan berdasarkan:
Temporal pattern of wheezing
– episodic viral wheezing : anak-anak yang mengalami mengi intermiten dan semuanya terjadi antara episode viral.
– multiple trigger wheeze : anak-anak yang mengalami mengi baik selama atau antara dua episode viral. Anak yang mengalami mengi dengan pemicu multipel lebih besar kemungkinan akan mengalami asma alergika saat mereka tumbuh dewasa.
Duration of wheeze

– transient wheeze : timbulnya mengi sebelum usia 3 tahun dan menghilang saat usia 6 tahun.
– persisten wheeze : timbulnya mengi sebelum usia 3 tahun dan menetap selama masa anak-anak.
– late onset wheeze : timbulnya gejala setelah usia 3 tahun.

Terapi antibiotik pada usia dini dilaporkan dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit alergi di masa mendatang. Mekanisme yang mendasari adalah adanya perubahan mikroflora di usus setelah pemberian terapi antibiotik diperkirakan dapat mempengaruhi perkembangan toleransi oral, yang menginduksi perubahan pada sistem imunitas mukosa yang sedang berkembang ke arah polarisasi Th2.
Jadi kembali ke “hygiene hypothesis” yang membicarakan tentang keseimbangan Th1 dan Th2.
Terapi antibiotik pada neonatus dapat menjadi penanda adanya asma dan bukan merupakan suatu faktor kausatif. Keterlambatan maturasi sistem imun saat lahir dapat ditemukan pada bayi yang lahir dari orang tua dengan riwayat alergi⁄asma, yang dapat dilihat dari kadar sitokin dalam darah tali pusat atau respon terhadap stimulasi in vitro. Selain itu, terdapat data yang menghubungkan keterlambatan maturasi sistem imunitas saat lahir dan pada awal kehidupan setelah lahir dengan peningkatan risiko kejadian asma pada anak dan dengan peningkatan frekuensi penyakit saluran pernapasan bagian bawah. Produksi interferon-gama yang rendah saat lahir atau segera setelahnya dapat memprediksi akan terjadinya episode mengi rekuren di kemudian hari, dan produksi IL-5 berlebihan dari sel T saat lahir nampak berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya infeksi saluran pernapasan berat.

Komposisi lemak pada diet, meningkatkan perbandingan polyunsaturated fatty acids (PUFA) n-6 terhadap n-3, dilaporkan dapat mempengaruhi patogenesis penyakit alergi, dengan bekerja pada jalur inflamatorik dan imunologis. Ikan, yang kaya akan PUFA n-3, diperkirakan dapat melawan aksi dari PUFA n-6, sehingga akan mengurangi risiko alergi. Pemberian ikan sejak dini juga dapat menurunkan risiko eksema pada bayi dan rhinitis alergi pada usia pra-sekolah. Telah diperkirakan bahwa asupan ikan juga memiliki efek protektif pada terjadinya asma.

Kapan waktu yang tepat untuk memulai pemberian makan pada anak? Hal ini masih menjadi perdebatan dikalangan peneliti. Ada yang menyebutkan bahwa penundaan pemebrian makanan tambahan tidak mengurangi resiko terjadinya asma di masa mendatang. Namun panduan yang kita pegang saat ini adalah ASI ekslusif sampai 6 bulan. Hal ini dikarenakan saluran pencernaan anak sudah siap menerima makanan padat pada umur tersebut.

So kesimpulan dari jurnal tersebut adalah terdapat adanya peningkatan risiko mengi rekuren dan mengi dengan pemicu multipel pada anak usia pra-sekolah yang memperoleh terapi antibiotik sampai usia satu minggu setelah lahir dan  pemberian ikan sejak dini dapat mengurangi risiko terjadinya rekurensi mengi secara bermakna.

~ oleh Zakiah pada Januari 15, 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: